Assalamu'alaikum.wr.wb
selamat malam teman semua, eheemm mau mulai ngisi blog lagi nih, kali ini tentang negara nan jauh disana itu tuh. negera impian saya yang ingin (insya allah jika diijinkan ama Allah) kesana. eittsss tapi bukan berarti saya engga cinta negeri sendiri loh yah, saya tetap cinta Indonesia kok =)
checkthisout!
-ALEXANDRIA/ISKANDARIA-
KOMPAS.com - Kesohoran Mesir akan arkeologi dan
aset-aset bersejarahnya, terus saja mengundang perhatian pelancong
mancanegera dan lokal untuk terjun langsung menelusuri bukti-bukti
peradaban itu. Mulai dari ceceran imprerium Persia, Romawi, Islam dan
modern saat ini dapat ditemukan di negeri Fir`aun ini.
Jika Anda
seorang arkeolog, ilmuwan, sastrawan, ahli medis atau spiritual, maka
Mesir merupakan salah satu solusi guna mengoptimalkan spesialisasi yang
tengah Anda geluti tersebut. Namun, jika Anda seorang pelancong atau
pengemar pariwisata, negeri Kinanah itu juga sangat pas untuk Anda
jadikan pilihan untuk berpetualang ria. Mulai dari Piramid, Sping, Mumi
Fir`aun, makam para nabi dan ulama, masjid-masjid berumur ribuan serta
berbagai aksesories peradaban lainnya akan semakin melengkapi perjalanan
Anda ke Delta Nill itu.
Itu barangkali sekelumit prolog yang
menarik menurut penulis mengawali tulisan ini. Rangkaian gerbong kalimat
ini, akan mencoba membawa rasio Anda terbang sejenak ke sebuah kota
yang terletak di ujung utara negeri Seribu Menara. Kota tersebut bernama
Alexandria, atau orang Mesir kerap menamainya Iskadariah.
Kawasan
di tepian pantai itu pertama kali dibangun oleh Alexnder The great
(Iskandar Zulkarnain) dari Imperium Romawi pada 332 SM, dan sempai
sekarang kawasan itu dihuni oleh sekitar 3.341.000 orang lebih. Arsitek
sangat berjasa merenovasi kota tua ini adalah Denokrates dari Yunani.
Atas kemegahannya jugalah, Alexandria dijadikan ibukota Mesir selama
1000 tahun. Sejak itulah kota ini terus mengalami masa-masa keemasannya,
tidak ayal kalau banyak sekali aset-aset kebudayaan kuno nangkring di
situ.
Selain keindahan pantai Alexandria dan kepadatan
aktivitasnya, Anda juga dapat berkunjung ke Montazah Garden. Di taman
seluas 115 yard itu, pengunjung juga dapat dengan plongnya menyaksikan
lengkungan pantai utara benua Afrika yang sangat menakjubkan itu. Tidak
hanya eksotika pantai, di taman yang dikelilingi oleh tembok yang
membentang dari timur, barat, selatan serta pantai utara itu, Anda juga
dapat singgah dan bercengkrama di istana bernama Salamlek dan Haramlek.
Bangunan tersebut merupakan peninggalan Raja Fuad yang dirampungkan pada
tahun 1932 M. Sepoian angin di Montazah Park itu kerap menjadi magnet
bagi pelancong mancanegara dan pribumi tiap kali mampir ke kota
Alexandria.
Disamping wisata alamnya, Anda juga dapat berpetualangan menelusuri gunungan buku
di lorong-lorong perpustakaan terbesar di dunia yang berdiri di sentral
kota itu. Merujuk ke lembaran sejarahnya, perpustakaan Alexandria
pertama kali dibangun oleh Ptolemi I pada tahun 323 SM. Lantaran
kecintaian sang panglima militer itu terhadap ilmu, ia pun terus
mengumpulkan berbagai buku dari disiplin ilmu. Karena keuletannya itu
juga beliau sempat digelari si soter. Akhirnya sampai ke Ptolemi III
kurang lebih 700.000 buku dan manuskrip tersimpan di perpustakaan itu.
Namun,
perjalanan aset keilmuan itu malah mendapatkan tanjakan pada tahun 48
SM, akibat serangan yang dilancarkan Julius Caesar ke kota Alexandria.
Sejarah mencatat tidak lebih dari 400.000 buku ludes dilahap Si Jago
Merah saat itu. Insiden itu menjadi luka yang amat mandalam di kalangan
di pecinta ilmu saat itu. Tidak lama berselang pasca kejadian itu,
akhirnya Caesar pun meminta maaf kepada pemerintahan Mesir. Guna menebus
kesalahan itu ia pun menghadiahkan sekitar 200.000 buku kepada Ratu
Mesir, Cleopatra. Konon sejak itu asmara dan falling in love antara Cleopatra dan Caesar mulai bersemai.
Sejak
pemberangusan tersebut, Perpustakaan yang pernah menjadi ikon utama
bagi para ilmuan dunia itu, mulai meredup dan tidak terurus lagi.
Singkatnya Pada tahun 1990, atas inisiatif Pemerintahan Mesir dan UNESCO
berniat kembali mengeksiskan lokasi pelajar tersebut. Konon katanya
ketika itu, Suzane Mubarak, istri sang presiden sampai menjadi
presentator di berbagai negara di Eropa, guna mengalang dana
perenovasian perpustakaan itu.
Sejak Oktober 2002 Pemerintah Mesir
membuka kembali perpustakaan tertua di dunia itu untuk umum. Sekarang
perpustakaan Alexandria telah menyimpan jutaan buku dari pelbagai
disiplin ilmu. Ruangannya juga dilengkapi 500 komputer yang dapat
mengakses semua buku secara digital dan kapasitasnya juga dapat
menampung sekitar 1.700 orang.
Setelah memuaskan selera baca di
perpustakaan itu, perjalanan Anda juga akan semakin lengkap dengan
singgah ke Qait Bay. Qait Bay Citadel adalah sebuah benteng kecil yang
menjorok ke arah laut, dan didirikan di atas reruntuhan mercu suar
Pharos. Saat itu, mercu suar ini mempunyai tinggi 125 meter serta 300
kamar bawah tanah yang diperuntukkan bagi para pekerja. Namun sekarang,
yang tersisa dari mercu suar ini hanya bisa kita lihat di bagian pondasi
benteng Qait Bay. Persisnya bangunan yang dipelopori al-Ashraf Saif
al-Din Qait Bay pada tahun 1479 M itu berada di utara perpustakaan
Alexandria.
Tidak hanya objek keduniaan, tour Anda juga semakin
syahdu jika disempatkan menyingahi masjid dan makam Nabi Daniel As.
Begitu juga Masjid al-Abbas Al-Mursi yang memiliki empat kubah menjulang
ke angkasa, dan sekarang telah menjadi corong tertinggi di kota
Alexandria.
Jika telah sampai di Mesir dengan meronggoh kocek
sekitar 50-60 pound Mesir, Anda dapat menjajaki kemegahan dan
menyaksikan kesibukkan kota Alexandria dari dekat. (Owen Putra)
-PATUNG SPINX-
Banyak Arkeologi bingung, mengapa Sphinx di Mesir menghadap ke arah barat daya (Southwest).
Padahal sudah kita pahami bersama, berdasarkan penelitian catatan-catatan mengenai Mesir kuno, melalui gambar-gambar yang terdapat pada piramid dan sphinx, diketahui bahwa penguasa yang membangun benda-benda itu, mendewakan Matahari.
Oleh karenanya, apabila kita imaginasikan wajah Sphinx menghadap ke arah ufuk timur, tempat terbitnya matahari, secara mengejutkan diperoleh fakta bahwa Mekkah ternyata berada di wilayah kutub utara.
Apa makna semua ini ?
Seorang cendikiawan muslim, ustadz Nazwar Syamsu menduga, pergeseran posisi menghadap pada Sphinx erat kaitannya dengan bencana maha dahsyat ribuan tahun yang silam, yang kita kenal sebagai bencana banjir Nuh
Hal ini juga didukung oleh informasi Al Qur’an, yang menceritakan posisi Bakkah (Mekkah), berada di wilayah Utara (QS. Nuh (71) ayat 14), sebelum peristiwa bencana Nuh (Sumber : Sains dan Dakwah).
Sphinx, adalah patung singa bermuka manusia yang juga merupakan obyek penting dalam penelitian ilmuwan, tingginya 20 meter, panjang keseluruhan 73 meter, dianggap didirikan oleh kerajaan Firaun ke-4 yaitu Khafre.
Namun, melalui bekas yang dimakan karat (erosi) pada permukaan badan Sphinx, ilmuwan memperkirakan bahwa masa pembuatannya mungkin lebih awal, paling tidak 10 ribu tahun silam sebelum Masehi.
Seorang sarjana John Washeth juga berpendapat: Bahwa Piramida raksasa dan tetangga dekatnya yaitu Sphinx, jika dibandingkan dengan bangunan masa kerajaan ke-4 lainnya, sama sekali berbeda, Sphinx diperkirakan dibangun di masa yang lebih purba.
Dalam bukunya “Ular Angkasa“, John Washeth mengemukakan: perkembangan budaya Mesir mungkin bukan berasal dari daerah aliran sungai Nil, melainkan berasal dari budaya yang lebih awal.
Ahli ilmu pasti Swalle Rubich dalam “Ilmu Pengetahuan Kudus” menunjukkan: pada tahun 11.000 SM, Mesir pasti telah mempunyai sebuah budaya yang hebat. Pada saat itu Sphinx telah ada, hal ini bisa terlihat, pada bagian badan Sphinx yang jelas sekali ada bekas erosi. Diperkirakan akibat dari banjir dahsyat di tahun 11.000 SM.
Perkiraan erosi lainnya pada Sphinx adalah air hujan dan angin.
Washeth mengesampingkan dari kemungkinan air hujan, sebab selama 9.000 tahun di masa lalu dataran tinggi Jazirah, air hujan selalu tidak mencukupi, dan harus melacak kembali hingga tahun 10.000 SM baru ada cuaca buruk yang demikian.
Washeth juga mengesampingkan kemungkinan tererosi oleh angin, karena bangunan batu kapur lainnya pada masa kerajaan ke-4 malah tidak mengalami erosi yang sama. Dan bisa terlihat, pada tulisan berbentuk gajah dan prasasti peninggalan kerajaan kuno, dimana tidak ada sepotong batu pun yang mengalami erosi, separah Sphinx.
Profesor Universitas Boston, dan ahli dari segi batuan erosi Robert S. juga setuju dengan pandangan Washeth sekaligus menujukkan: Bahwa erosi yang dialami Sphinx, ada beberapa bagian yang kedalamannya mencapai 2 meter lebih, dan jelas sekali merupakan bekas setelah mengalami tiupan dan terpaan angin yang hebat selama ribuan tahun.
Washeth dan Robert S. juga menunjukkan: Teknologi bangsa Mesir kuno tidak mungkin dapat mengukir skala yang sedemikian besar di atas sebuah batu raksasa, produk seni yang tekniknya rumit.
Jika diamati secara keseluruhan, kita bisa menyimpulkan secara logis, bahwa pada masa purbakala, di atas tanah Mesir, pernah ada sebuah budaya yang sangat maju, namun karena adanya pergeseran lempengan bumi, daratan batu tenggelam di lautan, dan budaya yang sangat purba pada waktu itu akhirnya disingkirkan, meninggalkan piramida dan Sphinx dengan menggunakan teknologi bangunan yang sempurna.
Dalam jangka waktu yang panjang di dasar lautan, piramida raksasa dan Sphinx mengalami rendaman air dan pengikisan dalam waktu yang panjang.
Temuan ahli arkeologi, berkenaan dengan Sphinx nampaknya sejalan dengan temuan Geologi, yang memperkirakan pada sekitar masa 11.000 SM, pernah terjadi banjir global yang melanda bumi.
Peristiwa banjir global inilah, yang menurut Ustadz H.M. Nur Abdurrahman, sebagai banjir di era Nabi Nuh. Yang sangat luar biasa, dan memusnahkan seluruh peradaban ketika itu, dan yang tersisa adalah mereka yang meyakini Syariat Allah, melalui utusanNya Nabi Nuh As.
Padahal sudah kita pahami bersama, berdasarkan penelitian catatan-catatan mengenai Mesir kuno, melalui gambar-gambar yang terdapat pada piramid dan sphinx, diketahui bahwa penguasa yang membangun benda-benda itu, mendewakan Matahari.
Oleh karenanya, apabila kita imaginasikan wajah Sphinx menghadap ke arah ufuk timur, tempat terbitnya matahari, secara mengejutkan diperoleh fakta bahwa Mekkah ternyata berada di wilayah kutub utara.
Apa makna semua ini ?
Seorang cendikiawan muslim, ustadz Nazwar Syamsu menduga, pergeseran posisi menghadap pada Sphinx erat kaitannya dengan bencana maha dahsyat ribuan tahun yang silam, yang kita kenal sebagai bencana banjir Nuh
Hal ini juga didukung oleh informasi Al Qur’an, yang menceritakan posisi Bakkah (Mekkah), berada di wilayah Utara (QS. Nuh (71) ayat 14), sebelum peristiwa bencana Nuh (Sumber : Sains dan Dakwah).
Sphinx, adalah patung singa bermuka manusia yang juga merupakan obyek penting dalam penelitian ilmuwan, tingginya 20 meter, panjang keseluruhan 73 meter, dianggap didirikan oleh kerajaan Firaun ke-4 yaitu Khafre.
Namun, melalui bekas yang dimakan karat (erosi) pada permukaan badan Sphinx, ilmuwan memperkirakan bahwa masa pembuatannya mungkin lebih awal, paling tidak 10 ribu tahun silam sebelum Masehi.
Seorang sarjana John Washeth juga berpendapat: Bahwa Piramida raksasa dan tetangga dekatnya yaitu Sphinx, jika dibandingkan dengan bangunan masa kerajaan ke-4 lainnya, sama sekali berbeda, Sphinx diperkirakan dibangun di masa yang lebih purba.
Dalam bukunya “Ular Angkasa“, John Washeth mengemukakan: perkembangan budaya Mesir mungkin bukan berasal dari daerah aliran sungai Nil, melainkan berasal dari budaya yang lebih awal.
Ahli ilmu pasti Swalle Rubich dalam “Ilmu Pengetahuan Kudus” menunjukkan: pada tahun 11.000 SM, Mesir pasti telah mempunyai sebuah budaya yang hebat. Pada saat itu Sphinx telah ada, hal ini bisa terlihat, pada bagian badan Sphinx yang jelas sekali ada bekas erosi. Diperkirakan akibat dari banjir dahsyat di tahun 11.000 SM.
Perkiraan erosi lainnya pada Sphinx adalah air hujan dan angin.
Washeth mengesampingkan dari kemungkinan air hujan, sebab selama 9.000 tahun di masa lalu dataran tinggi Jazirah, air hujan selalu tidak mencukupi, dan harus melacak kembali hingga tahun 10.000 SM baru ada cuaca buruk yang demikian.
Washeth juga mengesampingkan kemungkinan tererosi oleh angin, karena bangunan batu kapur lainnya pada masa kerajaan ke-4 malah tidak mengalami erosi yang sama. Dan bisa terlihat, pada tulisan berbentuk gajah dan prasasti peninggalan kerajaan kuno, dimana tidak ada sepotong batu pun yang mengalami erosi, separah Sphinx.
Profesor Universitas Boston, dan ahli dari segi batuan erosi Robert S. juga setuju dengan pandangan Washeth sekaligus menujukkan: Bahwa erosi yang dialami Sphinx, ada beberapa bagian yang kedalamannya mencapai 2 meter lebih, dan jelas sekali merupakan bekas setelah mengalami tiupan dan terpaan angin yang hebat selama ribuan tahun.
Washeth dan Robert S. juga menunjukkan: Teknologi bangsa Mesir kuno tidak mungkin dapat mengukir skala yang sedemikian besar di atas sebuah batu raksasa, produk seni yang tekniknya rumit.
Jika diamati secara keseluruhan, kita bisa menyimpulkan secara logis, bahwa pada masa purbakala, di atas tanah Mesir, pernah ada sebuah budaya yang sangat maju, namun karena adanya pergeseran lempengan bumi, daratan batu tenggelam di lautan, dan budaya yang sangat purba pada waktu itu akhirnya disingkirkan, meninggalkan piramida dan Sphinx dengan menggunakan teknologi bangunan yang sempurna.
Dalam jangka waktu yang panjang di dasar lautan, piramida raksasa dan Sphinx mengalami rendaman air dan pengikisan dalam waktu yang panjang.
Temuan ahli arkeologi, berkenaan dengan Sphinx nampaknya sejalan dengan temuan Geologi, yang memperkirakan pada sekitar masa 11.000 SM, pernah terjadi banjir global yang melanda bumi.
Peristiwa banjir global inilah, yang menurut Ustadz H.M. Nur Abdurrahman, sebagai banjir di era Nabi Nuh. Yang sangat luar biasa, dan memusnahkan seluruh peradaban ketika itu, dan yang tersisa adalah mereka yang meyakini Syariat Allah, melalui utusanNya Nabi Nuh As.
-PIRAMIDA-
Piramida Mesir adalah sebutan untuk piramida yang terletak di Mesir yang dikenal sebagai "negeri piramida" sekalipun ditemukan situs piramida dalam jumlah besar di Semenanjung Yucatan yang merupakan pusat peradaban Maya.
Di Mesir umumnya piramida digunakan sebagai makam raja-raja Mesir Kuno yang dikenal dengan nama firaun.
Namun demikian, berabad abad lalu piramida sering digunakan sebagai
sasaran penjarahan dan perampok makam karena para raja-raja membawa
harta kekayaannya dan segala macam artefak
guna di alam baka, sekalipun diberi perlindungan dengan semacam
kutukan-kutukan untuk mencegahnya. Sehingga pada masa raja-raja mesir
kuno berikutnya, makam raja-raja dan para bangsawan ditempatkan pada
lembah yang tersembunyi seperti halnya makam Raja Tutankhamun yang ditemukan secara utuh dan lengkap.
Piramida pun tidak dibuat sembarangan. Para insinyur Mesir kuno
menghitung dulu jarak piramida dengan matahari, karena matahari adalah
salah satu hal terpenting dalam kehidupan masyarakat Mesir kuno. Ilmuwan
masa kini pun mengakui kehebatan mereka dalam membangun piramida yang
termasuk tujuh keajaiban dunia ini. Waktu, harta, dan tenaga yang
dikeluarkan demi pembangunan piramida pun luar biasa banyaknya.
Pembangunan piramida membutuhkan waktu sekitar dua puluh tahun dan
mempekerjakan lebih dari sepuluh ribu budak, dan banyak yang nyawanya
melayang. Piramida terbesar berada di Giza.
-SUNGAI NIL-
Sungai Nil (bahasa Arab: النيل an-nīl atau bahasa Mesir/Koptik iteru
), di Afrika, adalah satu dari dua sungai terpanjang di Bumi. Sungai Nil mengalir sepanjang 6.650 km atau 4.132 mil dan membelah tak kurang dari sembilan negara yaitu : Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan, dan tentu saja Mesir.
Karena sungai Nil mempunyai sama artinya dalan sejarah bangsa Mesir
(terutama Mesir kuno) maka sungai Nil identik dengan Mesir.
Sungai Nil mempunyai peranan sangat penting dalam peradaban,
kehidupan dan sejarah bangsa Mesir sejak ribuan tahun yang lalu. Salah
satu sumbangan dari sungai Nil adalah kemampuannya dalam menghasilkan
tanah subur sebagai hasil sedimentasi di sepanjang daerah aliran sungainya. Tanah yang subur ini memungkinkan penduduk Mesir mengembangkan pertanian dan peradaban sejak ribuan tahun yang lalu.
-GURUN SAHARA-
Gurun Sahara adalah nama sebuah padang pasir terbesar di dunia. Nama "Sahara" diambil dari bahasa Arab yang berarti "padang pasir". Bahasa Arab pada gilirannya mengambil dari bahasa Sumeria.
Sahara terletak di utara Afrika dan berusia 2,5 juta tahun. Padang pasir ini membentang dari Samudra Atlantik ke Laut Merah. Dari Laut Tengah di utara sampai ke Sahel di sebelah selatan. Dari Mauritania di sebelah barat ke Mesir di sebelah timur. Padang pasir ini membagi benua Afrika menjadi Afrika Utara dan Afrika "yang sejatinya". Kedua bagian benua ini sangat berbeda, baik secara iklim maupun budaya. Luas padang pasir ini sekitar 9.000.000 km2.
nah, gimana kawan informasi diatas? semoga menambah wawasan kita yah. kalo kalian mau kemana?jangan cuma di Indonesia yah kalo bisa , hehehe =)
thanks to:(wikipediaa, www.gens22.com) :)